Hari Seninnya, uang masih belum masuk dan menurut pihak bank juga tidak ada transaksi yang tercatat berkaitan dengan pembelian R. Malam harinya, R memberi kabar bahwa uang yang ditransfer ternyata 'nyantol' dan menurut pihak bank baru akan dikembalikan ke rekeningnya sekitar 3 hari depan. Ia berjanji bahwa begitu uang kembali ia akan segera mentransfer balik ke rekening saya.
Pada saat itu sebenarnya saya juga sudah curiga karena itu pertama kalinya saya mendengar ada kasus uang transferan bisa nyantol di tengah jalan. Ketika mengecek kembali bukti slip transfer yang ia berikan, saya juga menemukan ada beberapa kejanggalan. Tapi saya mencoba untuk berprasangka baik dan menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Hingga sampai sekarang tidak ada kelanjutannya...
Ada satu hal yang saya lupa. Ini bisnis, bung! Pelanggan memang raja, dan sudah seharusnya kita memperhatikan dan mengurusi pelanggan kita, apalagi untuk hal-hal yang memang kita janjikan. Namun jangan lupa, kalau sudah urusan duit, gak pelanggan, gak penjual, semua bisa khilaf.
Selain soal fulus, saya juga sering dihadapkan dengan pelanggan yang 'tidak suka membaca'. Maksudnya di sini adalah kelompok pelanggan yang tidak mau membaca aturan main yang sudah dipersiapkan dan memilih untuk membuat aturan mainnya sendiri :)
Untuk masalah aktivasi order misalnya. Dulu, meskipun sudah tercantum bahwa order akan diaktivasi dalam waktu 1x24 jam (kecuali hari Sabtu Minggu), selalu saja ada orang yang komplain kenapa kok ordernya belum diaktifkan. Dan komplain tersebut rata-rata dilakukan dalam waktu 3 JAM setelah melakukan order. Rekor tercepat untuk komplain yang tercatat sendiri adalah 20 MENIT.
Untuk mengatasinya, saya coba memperjelas cara penyampaian informasi mengenai waktu aktivasi, serta MEMPERBESAR tulisannya hingga ukuran 24px. Efektif? Tetap tidak. Hasilnya sama saja (pernah saya curhatkan di Fesbuk). Masalah ini baru benar-benar bisa diselesaikan setelah saya menerapkan sistem konfirmasi ganda dengan menambahkan email autoresponder bagi setiap orang yang melakukan transaksi, dimana dalam email tersebut diberikan informasi mengenai waktu proses order.
Contoh lain adalah soal media konsultasi. Meskipun sudah disampaikan dalam ebook dan member area bahwa konsultasi hanya boleh dilakukan (dan hanya akan dilayani) melalui forum dan help desk yang telah disediakan, ternyata masih banyak yang bertanya melalui media lain. Email, Facebook, bahkan form Testimoni!
Yah, ini bukan sekedar curhat, kawan. Hanya ingin mengingatkan, bagi saya pribadi, maupun bagi teman-teman lain yang sedang/ingin berkecimpung di bisnis internet dengan memegang jabatan sebagai business owner, bahwa ini bisnis, bung! Mungkin jika pelanggan ndableg hanya ada satu dua, tidak masalah jika Anda menjadi the good guy. Tapi jika ada banyak, bisa-bisa waktu Anda habis hanya untuk meladeni hal-hal yang sebenarnya TIDAK PERLU untuk diladeni. Toh mereka sebenarnya juga harus tahu, bahwa ini bisnis, dan dalam bisnis, tidak hanya penjual, pembeli pun harus bisa bersikap profesional. Betul, tidak?
Satu kalimat yang kini selalu saya pegang, walau sayangnya saya lupa dimana saya pernah membacanya dan siapa orang yang mencetuskan kalimat tersebut, adalah:
Ini adalah bisnis. Tempat uang berputar, bukan tempat untuk mencari teman. Jika Anda ingin melakukannya (maksudnya: mencari teman), pergilah ke bar dan berpestalah.Masuk akal, kan?
Di bagian berikutnya kita akan membahas masalah ini dari sudut pandang pembeli. Biar adil :)