Pada bagian penutup artikel edisi khusus hari Idul Adha kemarin, saya menyebutkan bahwa garis batas perbedaan antara seorang pengangguran dengan pebisnis internet sukses amat sangat tipis. Alasannya sederhana saja. Seorang pebisnis internet yang sudah sukses biasanya jam kerjanya sangat minim (baca juga artikel mengenai nilai jual seseorang), karena sebagian pekerjaan rutinnya sudah dilakukan secara cerdas. Saking minimnya, dunia luar pun menganggap mereka sebagai seorang pengangguran yang kerjaannya setiap hari hanya bangun tidur dan tidur lagi. Apalagi ditambah dengan penampilan yang kadang jauh dari definisi rapi dan necis.
Ngomong-ngomong soal jam kerja, terus terang agak sulit juga untuk menentukan berapa sih sebenarnya waktu yang kita sisihkan untuk bekerja mengurusi bisnis internet kita. Bagaimana tidak sulit, lha wong kerja atau tidak juga kita sama-sama bertatap muka dengan layar komputer kok. Saat-saat dimana kita melakukan investasi ilmu pun agak membingungkan, apakah dimasukkan dalam sesi bekerja atau tidak.
Coba bandingkan dengan pekerjaan di dunia nyata yang sudah jelas jam kerjanya. Meskipun ada saat-saat tertentu dimana kita harus mempelajari materi-materi yang berhubungan dengan pekerjaan utama kita (setara dengan berinvestasi ilmu di dunia bisnis internet), namun karena itu dilakukan pada jam kerja, maka ya sudah ikut dihitung sebagai 'pekerjaan'.
Apakah hal yang sama bisa diasumsikan pada dunia bisnis internet?
Entahlah. Belum lagi untuk kasus bersosialisasi di jejaring sosial atau layanan pesan instan. Untuk bidang bisnis internet tertentu mungkin tidak berhubungan dan tidak bermanfaat, namun untuk bidang bisnis internet yang lain, menjalin hubungan dengan orang lain hukumnya adalah wajib dan sudah pasti masuk dalam 'jam kerja' kita.
Saya pribadi, jika mengabaikan unsur investasi ilmu dan investasi jaringan sosial, maka hasil akhir perhitungan total jam kerja adalah sekitar 2 - 4 jam per hari. Masalahnya, jika kedua parameter tersebut disertakan, maka bisa mencapai 6 jam per hari. Sungguh bukan merupakan nilai yang ideal :)
Atau mungkin, karena sebagian besar pelaku bisnis internet menganggap dan merasa bahwa bisnis internet adalah pekerjaan yang menyenangkan, maka sebenarnya jam kerja kita adalah NOL? Ingat, sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan dapat dianggap sebuah aktivitas yang bisa kita lakukan kapan saja tanpa ada paksaan dan aturan. Dan tidak dapat dipungkiri, itulah yang dirasakan dalam hati kecil saya :)
Bagaimana menurut pendapat Anda?